Pengalaman Pertama Naik Burung Besi
Bagi sebagian orang mungkin naik kapal (sebutan pesawat bagi orang daerah Sukabumi) merupakan sesuatu yang biasa. Namun, bagi orang yang berasal dari daerah yang tidak memiliki bandara yaitu saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang serem-serem makyus. Tidak dapat kita pungkiri naik pesawat dapat menyebabkan efek samping yang di sebut dengan Jet Lag.
Jet Lag atau pengar udara menurut alodokter.com adalah kelainan waktu tidur sementara atau merasa lelah dan kebingungan setelah perjalanan panjang dengan melintasi beberapa zona waktu menggunakan pesawat terbang, tapi intinya kalau menurut saya Jet Lag itu adalah mabuk naik kapal.
Selain perasaan yang terasa nano-nano, setelah terkena Jet Lag kita juga tidak dapat menggunakan kemampuan otak dan pendengaran kita seperti biasanya. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh adanya pengalaman yang pertama naik pesawat dan terkait dengan obat apa yang tepat untuk mengobati efek samping dari pesawat ini belum terlalu banyak penelitian yang dilakukan untuk mengatasinya. Saya pun gak tahu apakah obat antimo mempan terhadap mabuk yang disebabkan oleh transfortasi udara ini.
Namun berdasarkan pengalaman saya sendiri, obat yang paling tepat untuk mengatasi Jet Lag ini adalah dengan cara makan, mandi, dan tidur. Hal tersebut dapat mengurangi rasa Jet Lag yang kita alami meskipun proses penyembuhannya tidak terlalu cepat., namun apabila Jet Lag masih berlanjut silahkan untuk hubungi dokter :D
Bandara : Tempat Parkir Pesawat dan Tempat Pemberi Kesan Pertama
Saat ke Malaysia saya naik pesawat AirAsia kelas rakyat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara KLIA 2 Kuala Lumpur. Kesan pertama saat melihat Bandara Husein adalah kok kecil. Dalam otak terpintas bandara tersebut kecil mungkin dikarenakan Husein asalnya bukan merupakan bandara yang fungsinya sebagai bandara umum namun untuk bandara militer.
Bagi sebagian orang mungkin naik kapal (sebutan pesawat bagi orang daerah Sukabumi) merupakan sesuatu yang biasa. Namun, bagi orang yang berasal dari daerah yang tidak memiliki bandara yaitu saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang serem-serem makyus. Tidak dapat kita pungkiri naik pesawat dapat menyebabkan efek samping yang di sebut dengan Jet Lag.
Jet Lag atau pengar udara menurut alodokter.com adalah kelainan waktu tidur sementara atau merasa lelah dan kebingungan setelah perjalanan panjang dengan melintasi beberapa zona waktu menggunakan pesawat terbang, tapi intinya kalau menurut saya Jet Lag itu adalah mabuk naik kapal.
Selain perasaan yang terasa nano-nano, setelah terkena Jet Lag kita juga tidak dapat menggunakan kemampuan otak dan pendengaran kita seperti biasanya. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh adanya pengalaman yang pertama naik pesawat dan terkait dengan obat apa yang tepat untuk mengobati efek samping dari pesawat ini belum terlalu banyak penelitian yang dilakukan untuk mengatasinya. Saya pun gak tahu apakah obat antimo mempan terhadap mabuk yang disebabkan oleh transfortasi udara ini.
Namun berdasarkan pengalaman saya sendiri, obat yang paling tepat untuk mengatasi Jet Lag ini adalah dengan cara makan, mandi, dan tidur. Hal tersebut dapat mengurangi rasa Jet Lag yang kita alami meskipun proses penyembuhannya tidak terlalu cepat., namun apabila Jet Lag masih berlanjut silahkan untuk hubungi dokter :D
Bandara : Tempat Parkir Pesawat dan Tempat Pemberi Kesan Pertama
Saat ke Malaysia saya naik pesawat AirAsia kelas rakyat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara KLIA 2 Kuala Lumpur. Kesan pertama saat melihat Bandara Husein adalah kok kecil. Dalam otak terpintas bandara tersebut kecil mungkin dikarenakan Husein asalnya bukan merupakan bandara yang fungsinya sebagai bandara umum namun untuk bandara militer.
Sangat disayangkan memang, bagi daerah Bandung yang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang banyak dikunjungi orang-orang negeri luar tapi bandaranya sebesar pesawat-pesawat yang parkir dihalamannya. Padahal menurut saya sendiri bandara merupakan kesan pertama dan pengantar prasangka maju atau tidaknya suatu daerah.
Kesan yang berbeda di berikan oleh bandara dari negera tetangga. Saat saya sampai di bandara KLIA 2 Kuala Lumpur. Hal yang pertama yang terpintas dikepala saya adalah ini bandara atau benteng, sebab bandara KLIA 2 tersebut cukup panjang dan besar seperti benteng dan yang paling membuat saya penasaran adalah terkait dengan alat-alat seperti penyedot untuk mengeluarkan manusia-manusia dari dalam kapal. Padahal setelah diteliti lebih lanjut alat tersebut adalah alat untuk menghubungkan pesawat langsung dengan bandara sehingga kita tidak harus olahraga turun dan jalan dari pesawat ke bandaranya.
Lebih mencengankan lagi saat saya melihat keadaan, situasi dan kondisi di dalam bandara KLIA 2. Meskipun bandaranya luas tapi kita tidak akan khawatir kecapean sebab banyak permainan anak-anak yaitu lantai berjalan yang sangat panjang. Selain itu toiletnya kelas VVVIP, dijamin betah deh diem di toiletnya juga lama-lama asal di dalemnya sekalian ada kamar, ruang keluarga, dll :D
Kenalan yang Berujung Dana
Setelah puas berkeliling di dalam bandara KLIA 2 saya pun memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu bis yang akan mengantarkan saya ke KL Central. Tempat istirahat yang saya pilih adalah tempat duduk yang dekat sekali dengan kasirnya. Iseng-iseng saya duduk di sebelah orang yang berjenggot dan berwajah ke india-indiaan agar dapat belajar bahasa India, padahal nyatanya dia orang melayu -_-
Setelah duduk saya pun pura-pura pegang hape dan pegang-pegang segala sesuatu yang bisa saya pegang biar kelihatan gak kaya orang bingung dan gak jelas. Namun, ternyata bapak tersebut berposisi sebagai tim pro dan membuka percakapan terlebih dahulu. Mulai dari kenalan, nanya kesini mau ngapain, dll.
Satu jam pun telah berlalu dan menghasilkan percakapan yang sangat sengit diantara kedua pihak antara saya dan bapa tersebut. Salah satu yang saya kagumi dari bapa ini, beliau merupakan salah satu orang luar yang menyukai negara Indoensia terutama terkait dengan kebudayaannya. Menurut beliau Indonesia merupakan negara yang kaya akan segala hal dan salah satunya adalah budaya.
Bis yang saya tunggupun akhirnya datang juga, dan saya pun mulai membereskan dan mengecek barang-barang yang saya bawa karena takut ketinggalan. Kirain bapa yang ngobrol dengan saya juga mau naik bis yang sama ternyata berbeda. Kejadian mencengankan pun terjadi, setelah saya pamit betapa bingung, kaget, gak ngerti, kepo, dll saat si bapa mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang dan menyerahkan uang tersebut kepada saya sebanyak 50 ringgit (Rp.150.000 kalau di terjemahkan).
Pertama-tama saya menanyakan maksud si bapa ini memberikan uang karena saya takut uang tersebut berasal dari hal yang aneh-aneh dan dimaksudkan untuk hal aneh-aneh. Namun setelah mendengar penjelasan dari si bapa, yang intinya uang tersebut sebagai ucapan terima kasih sudah mau mengunjungi negara malaysia, saya pun bersedia dengan malu-malu harimau menerima uang tersebut dan si bapa mengamanahkan agar uang tersebut untuk di jajankan ke makan-makan khas Malaysia, dan sayapun dengan senang hati menjalankan amanah tersebut semaksimal mungkin. :D


0 komentar:
Post a Comment