Ungkapan yang selalu menjadi pengerem mulut dan jari ini jika ingin mengatakan atau mengungkapkan sesuatu hal yang kurang/tidak baik.
Ungkapan yang selalu menjadi batu uji, dalam merangkai kata saat mau bicara atau menulis kata-kata.
Ungkapan sederhana yang menyiksa nafsu jiwa yang selalu ingin mengungkapkan hal ini, mengungkapkan hal itu, membalas komentar ini, dan membalas komentar itu.
Pernah sesekali merenung, apakah dengan kita mengomentari hal yang kurang atau tidak baik terhadap seseorang, meskipun orang tersebut bandit sekalipun, lantas diri ini menjadi lebih baik dan amal kebaikan kita bertambah? atau malah sebaliknya, dosa kita yang bertambah?
Pernah sesekali merenung, apakah membalas komentar orang lain yang berbicara tidak baik dengan komentar yang tidak baik pula, akan menambah amal kebaikan dan membuat kita lebih hebat? Atau sama-sama akan mendapat dosa dan menjadi orang hina dimata-Nya?
Pernah sesekali merenung, kenapa ada orang seperti Ust. Adi Hidayat yang pernah didzolimi dengan perkataan tidak baik terhadapnya lalu perkataan tersebut menyebar ke banyak orang, namun setelah beliau menemui orangnya, orang tersebut meminta maaf dan mengaku salah, beliau malah membuat sebuah buku dengan niat agar setiap amal kebaikan dari buku tersebut dapat tersalur kepada orang yang dzolim kepadanya.
Aaahhhh.. Ternyata menjaga itu sulit rupanya. Ternyata menjadi orang kuat itu sulit rupanya. Ternyata membalas keburukan dengan kebaikan itu sulit rupanya.
Ehhh.. Tapi tunggu dulu, sulit bukan berarti tidak mungkin/mustahil kan? Mungkin diri ini harus lebih memaksimalkan usaha dan doa lagi dalam melawan sesuatu yang tidak baik dalam perkataan/ungkapan. Mungkin diri ini harus lebih dewasa lagi dalam berbicara atau menulis kata-kata.
Semoga kita semua selalu dijaga untuk mengungkapkan kebaikan dan selalu dapat mengendalikan nafsu amarah lewat diri yang lemah.
Catatan:
“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)