Saat mendengar nama negara Malaysia, mungkin untuk sebagian orang yang mempunyai jiwa nasionalisme Indonesia yang tinggi, adrenalin dan esmosinya akan naik. Hal ini tidak bukan dan tidak lain disebabkan oleh seringnya negara kita yang suka bersitegang dengan negara Malaysia. Contohnya seperti pada kasus angklung, reog ponorogo, Ambalat dan lain sebagainya.
Jiwa nasionalisme tersebut juga menempel/ngait sedikit dalam jiwa saya. Hal ini mungkin dikarenakan saya merupakan orang Indonesia asli dari suku USA (Urang Sunda Asli) yang lahir di Sagaranten, Kota Sukabumi, eh salah maksudnya Kabupaten. Namun bedanya, jika kebanyakan orang lebih semangat bersitegang saat adanya masalah kebudayaan dan wilayah, jiwa nasionalisme saya malah semakin berkibar saat timnas negara kita bertarung di lapangan hijau dengan timnas negara Malaysia.
Mimpi vs Nasionalisme
Setiap orang pasti mempunyai mimpi dan harapan yang diinginkan serta tentunya ingin diwujudkan. Mimpi dan harapan tersebut juga ada dalam diri saya. Berasal dari daerah terluar Jawa Barat yang kalau dilihat di peta daerahnya berbatasan langsung dan hanya dipisahkan oleh laut dengan negara Australia, rasa-rasanya ingin suatu saat nanti kaki ini menginjak tanah negara orang lain. Bukan untuk gaya-gayaan tapi ingin berusaha menjadi manusia global dan siapa tahu dapat menemukan sesuatu yang bermanfaat di negara orang tersebut untuk nantinya dibawa dan diterapkan di Indonesia.
Mimpi yang muncul saat mulai memasuki dunia perkuliahan tersebut, selalu berusaha diwujudkan dengan beberapa cara. Mulai dari nyari-nyari kegiatan conference, student exchange, dan lain sebagainya. Namun hal tersebut bukanlah hal mudah yang dapat dijadikan kenyaataan seorang diri, sampai pada akhirnya saya bergabung di sebuah asrama pembinaan yang orang-orangnya juga pada ngebet nikah, eh maksudnya ngebet ingin ke luar negeri juga, hehe..
Segala informasi yang dapat menteleportasikan saya dan teman-teman ke luar negeri selalu di cari bersama. Sampai mencari pintu ajaib doraemon dan black hole sudah kita coba lakukan namun tidak semudah yang dipikirkan, sampai pada saat buah dari keringat besar/kecil, dingin/panaspun dapat terbayarkan dengan adanya kesempatan kami untuk pergi ke luar negeri. Namun ada sedikit yang mengganjal di hati saya pada yaitu negara yang akan kita tuju adalah negara yang suka membuat saya agak sedikit esmosi. Negara yang akan kami tuju tersebut adalah negara Malaysia. Negara yang terkenal dengan kartun Upin Ipin, dan negara yang terkenal dengan menara kembar tertinggi di dunianya.
Disatu sisi saya berpikir ingin mewujudkan salah mimpi saya yaitu keluar negeri namun disisi lain juga saya tidak ingin mengunjungi negara yang suka bersitegang dengan negara sendiri. Dangkal memang mempunyai pemikiran seperti itu, namun begitulah keadaan saya saat itu sampai pada akhirnya saya memperdalam lagi pemikiran saya dan saya memutuskan untuk lebih memilih mewujudkan impian saya daripada memperbesar ego yang tidak bermanfaat tersebut.
Saat kita ingin mengunjungi negara orang lain atau dalam hal ini ingin pergi keluar negeri tentunya ada beberapa hal yang perlu di persiapkan seperti niat yang kuat, mental yang kuat, dan dompet yang kuat. Selain itu ada beberapa hal yang sangat penting juga untuk dipersiapkan salah satunya adalah paspor.
Persiapan-persiapan tersebut mulai saya lakukan kurang lebih satu bulan sebelum keberangkatan. Mulai dari mengumpulkan uang yang gak kekumpul-kumpul, nyari tiket pesawat yang harganya bisa berubah-ubah setiap detik, mempersiapkan bahasa inggris, sampai membuat paspor yang ngantrinya kaya ngantri BLT dari Pemerintah.
Alhamdulillahnya persiapan-persiapan tersebut semuanya terpenuhi sebelum keberangkatan, kecuali satu yaitu mental yang kuat. Diri ini rasanya terlalu takut untuk naik pesawat terbang yang kalau jatuh kebanyakan semua penumpangnya meninggal, yang kalau kemaleman gak tahu nanti mau tidur dimana, kalau kesasar gak tahu nanya kesiapa dan lain sebagainya.
Namun seiring berjalannya waktu yang semakin mendekati hari keberangkatan ketakutan-ketakutan tersebut akhirnya luntur juga, hal ini mungkin disebabkan oleh niatan yang kuat untuk dapat mewujudkan salah satu impian. Dan pada saat hari keberangkatan tiba kamipun sudah siap untuk berangkat, dari dua Bandara yang berbeda yaitu ada yang berangkat dari Bandara Husein Bandung dan ada yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta.
Pengalaman Pertama Naik Burung Besi
bersambung..