Bedanya manusia dengan robot salah satunya adalah manusia mempunyai kebebasan berpikir, berpendapat, dan berprilaku. Namun saat manusia berpikir, berpendapat, dan berprilaku tersebut, biasanya mereka mengambil salah satu sudut pandang yang dia yakini benar.
Misalnya saat kita mendengar kasus Palestina, dari tiga orang manusia yang melihatnya mungkin dapat menanggapinya dengan menggunakan sudut pandang berbeda-beda, misal orang pertama melihat dari sudut pandang kemanusiaan sehingga warga Palestina perlu untuk bebas dari penindasan, orang kedua melihat dari sudut pandang agama sehingga warga Palestina harus terus didukung untuk menjaga tempat suci agama tertentu, dan orang ketiga melihat dari sudut pandang isu politik perang negara tersebut yang beranggapan bahwa korban anak-anak yang ada merupakan tameng dari militer Palestina sehingga Palestina tidak perlu didukung, dan lain sebagainya.
Hebatkan kita sebagai manusia yang diberikan kebebasan??
Saking hebatnya, banyak orang yang merasa benar dengan sudut pandang yang diyakininya dan menyampaikan hal tersebut tanpa memperhatikan/menghargai sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi ada yang sampai menyakiti dan meresahkan orang lain.
Manusia yang mempunyai kebebasan diberikan pedoman oleh yang mencitakan-Nya. Tapi saking hebatnya kebebasan yang dimiliki, manusia sering lalai dan kurang bijak dalam menyadari pedoman tersebut, baik itu tidak merasa perlu dilihat, sudah bisa hidup tanpa pendoman, dan lain-lain.
Penulis sendiri dalam merespon pendapat dari hasil berpikir seseorang, biasanya tidak langsung memvonis apa yang disampaikan orang tersebut salah, meskipun dalam keadaanya, diri penulis merasa bahwa pendapat yang disampaikan memang pendapat yang kurang tepat. Biasanya penulis mencari tahu terlebih dahulu sudut pandang yang bersangkutan diambil dari sudut pandang yang mana, baru setelah tahu dan juga tidak sepakat dengan sudut pandangnya penulis menyampaikan ketidak setujuan dengan cara yang baik.
Dan penulis sangat yakin bahwa ada hal yang mempengaruhi sudut pandang seseorang dalam berpikir yaitu salah satunya beribadah, misal sepengalaman penulis saat ibadahnya kurang atau jauh dari kewajiban yang harusnya dilaksanakan sudut pandang yang diyakini penulis biasanya berbeda
dengan saat penulis sendang agak baik ibadahnya.
Memang sudut pandang yang tepat itu tidak Allah berikan kesemua orang, oleh karenanya ada beberapa orang yang tidak mau terbuka sudut pandangnya meskipun ada kebenaran di depan matanya.
Semoga kita semua selalu diberikan sudut pandang yang tepat dalam berpikir, berpendapat, dan bertindak, aamiin..
Misalnya saat kita mendengar kasus Palestina, dari tiga orang manusia yang melihatnya mungkin dapat menanggapinya dengan menggunakan sudut pandang berbeda-beda, misal orang pertama melihat dari sudut pandang kemanusiaan sehingga warga Palestina perlu untuk bebas dari penindasan, orang kedua melihat dari sudut pandang agama sehingga warga Palestina harus terus didukung untuk menjaga tempat suci agama tertentu, dan orang ketiga melihat dari sudut pandang isu politik perang negara tersebut yang beranggapan bahwa korban anak-anak yang ada merupakan tameng dari militer Palestina sehingga Palestina tidak perlu didukung, dan lain sebagainya.
Hebatkan kita sebagai manusia yang diberikan kebebasan??
Saking hebatnya, banyak orang yang merasa benar dengan sudut pandang yang diyakininya dan menyampaikan hal tersebut tanpa memperhatikan/menghargai sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi ada yang sampai menyakiti dan meresahkan orang lain.
Manusia yang mempunyai kebebasan diberikan pedoman oleh yang mencitakan-Nya. Tapi saking hebatnya kebebasan yang dimiliki, manusia sering lalai dan kurang bijak dalam menyadari pedoman tersebut, baik itu tidak merasa perlu dilihat, sudah bisa hidup tanpa pendoman, dan lain-lain.
Penulis sendiri dalam merespon pendapat dari hasil berpikir seseorang, biasanya tidak langsung memvonis apa yang disampaikan orang tersebut salah, meskipun dalam keadaanya, diri penulis merasa bahwa pendapat yang disampaikan memang pendapat yang kurang tepat. Biasanya penulis mencari tahu terlebih dahulu sudut pandang yang bersangkutan diambil dari sudut pandang yang mana, baru setelah tahu dan juga tidak sepakat dengan sudut pandangnya penulis menyampaikan ketidak setujuan dengan cara yang baik.
Dan penulis sangat yakin bahwa ada hal yang mempengaruhi sudut pandang seseorang dalam berpikir yaitu salah satunya beribadah, misal sepengalaman penulis saat ibadahnya kurang atau jauh dari kewajiban yang harusnya dilaksanakan sudut pandang yang diyakini penulis biasanya berbeda
dengan saat penulis sendang agak baik ibadahnya.
Memang sudut pandang yang tepat itu tidak Allah berikan kesemua orang, oleh karenanya ada beberapa orang yang tidak mau terbuka sudut pandangnya meskipun ada kebenaran di depan matanya.
Semoga kita semua selalu diberikan sudut pandang yang tepat dalam berpikir, berpendapat, dan bertindak, aamiin..

0 komentar:
Post a Comment